Media Komunitas
Perpajakan Indonesia

Forum Ortax Forums PPh Orang Pribadi Status Istri dokter + karyawan RS dari satu pemberi kerja

  • Status Istri dokter + karyawan RS dari satu pemberi kerja

     KhoeNam updated 7 years, 3 months ago 3 Members · 12 Posts
  • KhoeNam

    Member
    17 March 2018 at 5:59 pm
  • KhoeNam

    Member
    17 March 2018 at 5:59 pm

    Rekan Ortax, Mohon pencerahannya.
    Saya karyawan swasta dengan penghasilan berupa gaji dan bonus yg sudah dipotong perusahaan dgn bukti 1721A1.
    Istri saya Karyawan di sebuah RS Swasta yg juga punya 1721A1. Tapi juga Dokter di RS yg sama yg dapat bukti potong tiap bulan.
    NPWP suami dan istri digabung

    – Apakah istri saya bisa disebut mendapatkan penghasilan dari 1 pemberi kerja? Krn bekerja di RS yang sama sebagai karyawan tetap dan dokter ahli.
    – Apakah pajak istri saya bisa saya laporkan sebagai Pajak Final?

  • TAKAYAZI

    Member
    18 March 2018 at 6:22 pm
    Originaly posted by KhoeNam:

    NPWP suami dan istri digabung

    Coba jelaskan detail NPWP anda & istri di GABUNG ??
    Apakah beda nomor atau nomor nya sama dengan nomor "ekor" nya berbeda atau bagaimana ?

    Originaly posted by KhoeNam:

    Apakah istri saya bisa disebut mendapatkan penghasilan dari 1 pemberi kerja? Krn bekerja di RS yang sama sebagai karyawan tetap dan dokter ahli.

    Apakah istri anda juga dapat 1721-A1 dari RS nya

    Originaly posted by KhoeNam:

    Apakah pajak istri saya bisa saya laporkan sebagai Pajak Final?

    Coba jelaskan lebih detail nya

  • KhoeNam

    Member
    18 March 2018 at 6:52 pm

    Terima kasih responnya rekan Takayazi. Maaf jika saya tidak bisa jawab per quote, krn tidak ketemu caranya di HP.

    1. NPWP saya dan istri nomornya sama, atas nama saya
    2. Iya, istri saya dapat 1721-A1 untuk gaji & tunjangan jabayan, dan 1721-VI untuk honor dokter. Keduanya dari RS yg sama dan NPWP pemotong sama. Apakah bisa disebut istri saya mendapatkan penghasilan dari 1 pemberi kerja?
    3. Saya lapor pakai 1770 S. Apakah penghasilan istri saya bisa saya total dan masukan ke lembar ke II Bagian A No 13, “Penghasilan istri dari satu pemberi kerja”?
    4. Atau saya harus lapor pakai 1770 dg kondisi perkerjaan istri seperti di atas?

  • TAKAYAZI

    Member
    19 March 2018 at 6:56 am
    Originaly posted by KhoeNam:

    2. Iya, istri saya dapat 1721-A1 untuk gaji & tunjangan jabayan, dan 1721-VI untuk honor dokter. Keduanya dari RS yg sama dan NPWP pemotong sama. Apakah bisa disebut istri saya mendapatkan penghasilan dari 1 pemberi kerja?

    benar

    Originaly posted by KhoeNam:

    3. Saya lapor pakai 1770 S

    kok 1770s ? bukankah anda seharus nya 1770ss ?

    Originaly posted by KhoeNam:

    4. Atau saya harus lapor pakai 1770 dg kondisi perkerjaan istri seperti di atas?

    saya lebih cenderung suka pake 1770 saja dengan kondisi anda

  • TAKAYAZI

    Member
    19 March 2018 at 7:37 am

    SE – 29/PJ/2010

    TENTANG

    PENGISIAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK
    ORANG PRIBADI BAGI WANITA KAWIN YANG MELAKUKAN PERJANJIAN PEMISAHAN
    HARTA DAN PENGHASILAN ATAU YANG MEMILIH UNTUK MENJALANKAN HAK DAN
    KEWAJIBAN PERPAJAKANNYA SENDIRI

    DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

    Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan mengenai pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan (SPT Tahunan PPh) Wajib Pajak Orang Pribadi bagi wanita kawin yang melakukan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan atau yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :1. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009, diatur antara lain : a. Pasal 2 ayat (1), setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak.
    b. Penjelasan Pasal 2 ayat (1), bahwa kewajiban mendaftarkan diri tersebut berlaku pula terhadap wanita kawin yang dikenai pajak secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta.

    Wanita kawin selain tersebut di atas dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak atas namanya sendiri agar wanita kawin tersebut dapat melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suaminya.

    2. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, diatur antara lain : a. Pasal 8 ayat (1), seluruh penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin pada awal tahun pajak atau pada awal bagian tahun pajak, begitu pula kerugiannya yang berasal dari tahun-tahun sebelumnya yang belum dikompensasikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dianggap sebagai penghasilan atau kerugian suaminya, kecuali penghasilan tersebut semata-mata diterima atau diperoleh dari 1 (satu) pemberi kerja yang telah dipotong pajak berdasarkan ketentuan Pasal 21 dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lainnya.
    b. Pasal 8 ayat (2), penghasilan suami-isteri dikenai pajak secara terpisah apabila : 1) huruf a, suami-isteri telah hidup berpisah berdasarkan putusan hakim;
    2) huruf b, dikehendaki secara tertulis oleh suami-isteri berdasarkan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan; atau
    3) huruf c, dikehendaki oleh isteri yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri.

    c. Pasal 8 ayat (3), penghasilan neto suami-isteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf c dikenai pajak berdasarkan penggabungan penghasilan neto suami isteri dan besarnya pajak yang harus dilunasi oleh masing-masing suami-isteri dihitung sesuai dengan perbandingan penghasilan neto mereka.

    3. Berdasarkan ketentuan di atas, dengan ini ditegaskan hal-hal sebagai berikut : a. bagi wanita kawin yang melakukan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan atau yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri wajib menyampaikan SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi atas namanya sendiri terpisah dengan SPT Tahunan PPh suaminya.
    b. Penghasilan yang dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh wanita kawin sebagaimana dimaksud pada huruf a adalah seluruh penghasilan yang diterima atau diperoleh wanita kawin tersebut dalam suatu tahun pajak, tidak termasuk penghasilan anak yang belum dewasa.
    c. Penghitungan PPh terutang dalam SPT Tahunan PPh wanita kawin sebagaimana dimaksud pada huruf a didasarkan pada penggabungan penghasilan neto suami isteri dan besarnya PPh terutang bagi isteri tersebut dihitung sesuai dengan perbandingan penghasilan neto antara suami dan isteri.
    d. Penghitungan PPh terutang sebagaimana dimaksud pada huruf c, berlaku juga bagi wanita kawin sebagai pegawai yang mempunyai penghasilan semata-mata diterima atau diperoleh dari 1 (satu) pemberi kerja yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21.
    e. Harta dan kewajiban/utang yang dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh wanita kawin sebagaimana dimaksud pada huruf a adalah harta dan kewajiban yang dimiliki dan/atau dikuasai wanita kawin tersebut pada akhir tahun pajak.
    f. Tata cara pengisian SPT Tahunan bagi wanita kawin sebagaimana dimaksud pada huruf a sesuai dengan petunjuk pengisian SPT Tahunan PPh Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-34/PJ/2009 tentang Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi Beserta Petunjuk Pengisiannya sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-66/PJ/2009.

    Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

    Ditetapkan di Jakarta
    Pada tanggal 1 Maret 2010
    Direktur Jenderal

  • mata

    Member
    19 March 2018 at 7:52 am

    Maaf rekan ikut nanya,
    Rekan Takayazi bagaimana dengan penulisan di PTKP nya apakah
    K/I/0 atau K/0
    kalau menurut saya karena seorang dokter tentu melakukan pekerjaan bebas (praktek/operasi) maka seharusnya 1770
    terima kasih rekan

  • TAKAYAZI

    Member
    19 March 2018 at 8:32 am
    Originaly posted by mata:

    Rekan Takayazi bagaimana dengan penulisan di PTKP nya apakah
    K/I/0 atau K/0

    status PTKP nya yang bagaimana ? untuk case diatas status PTKP nya si suami atau si istri ?

    Originaly posted by mata:

    kalau menurut saya karena seorang dokter tentu melakukan pekerjaan bebas (praktek/operasi) maka seharusnya 1770
    terima kasih rekan

    saya juga lebih refer ke 1770 doank

  • mata

    Member
    19 March 2018 at 9:58 am

    terima kasih rekan takayazi,
    status PTKP suami apakah K/I/0 atau K/0 di SPTnya, bila istri bekerja

  • KhoeNam

    Member
    19 March 2018 at 12:13 pm

    Terima kasih rekan TAKAYAZI atas respon nya

    Originaly posted by TAKAYAZI:

    benar

    Apakah bisa dimasukan ke dalam pengertian di SE – 29/PJ/2010 point 2 "….KECUALI penghasilan tersebut semata-mata diterima atau diperoleh dari 1 (satu) pemberi kerja yang telah dipotong pajak berdasarkan ketentuan Pasal 21 dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lainnya" ?

    Originaly posted by TAKAYAZI:

    kok 1770s ? bukankah anda seharus nya 1770ss ?

    Bukankah 1770SS itu untuk penghasilan dibawah 60 juta?

    Originaly posted by TAKAYAZI:

    saya lebih cenderung suka pake 1770 saja dengan kondisi anda

    Jika memakai 1770, apakah perhitungan pajaknya berdasarkan penggabungan penghasilan suami + istri dikurangi PTKP?

  • TAKAYAZI

    Member
    19 March 2018 at 12:16 pm
    Originaly posted by mata:

    status PTKP suami apakah K/I/0 atau K/0 di SPTnya, bila istri bekerja

    jika mereka memiliki NPWP sendiri2 & belum punya anak & penghasilan suami digabung istri.
    ya berarti status PTKP si suami adalah k/1/0 = Rp 112.500.000,- setahun nya

  • KhoeNam

    Member
    19 March 2018 at 2:37 pm
    Originaly posted by TAKAYAZI:

    jika mereka memiliki NPWP sendiri2 & belum punya anak & penghasilan suami digabung istri.
    ya berarti status PTKP si suami adalah k/1/0 = Rp 112.500.000,- setahun nya

    Iya Benar. Di kasus saya ini PTKP nya adalah K/1/2 = Rp 121.500.000,-

Viewing 1 - 12 of 12 posts

Original Post
0 of 0 posts June 2018
Now